Sunday, March 12, 2006

Mengkritik dan Menerima Kritik


Sahabat-sahabat, apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar orang berkata, "Saya ingin mengkritik saudara!" Biasanya perasaan orang langsung menjadi tidak enak. Seakan-akan bakal ada penyerangan dan gangguan yang mengancam kehormatannya. Ia menganggap kritik sebagai penghinaan yang akan menurunkan harga dirinya lagi mencemarkan nama baiknya. Sehingga reaksi yang muncul pada diri kita baik berupa pikiran, perasaan maupun sikap tubuh secepatnya membela diri daripada menikmati kritik itu sendiri. Itulah umumnya sikap kita terhadap kritik. Dalam menerima kritik kita butuh beberapa trik yang dapat membuat kritik efektif sebagai sarana pembangun kemuliaan.

Berikut sebagian dari trik-trik menerima kritik :
1. Rindu Kritik dan Nasihat
Kita harus bisa memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi juga rindu dinasehati, seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Dengan bercermin, rambut yang tadinya kusut menjadi rapi, penampilan yang tadinya semrawut menjadi cantik. Begitulah semestinya sikap hati kita terhadap kritik. Persepsi ini akan menjadi baik apabila senantiasa kita hujamkan dalam hati, bahwa : kritik itu penting, kritik itu kunci kesuksesan dan kemajuan, kritik membuka prestasi, membuka derajat dan merupakan jalan untuk menjadi lebih baik dalam menggapai kasih sayang dan karunia Allah SWT.
2. Cari dan Tanya
Sebaiknya, jangan biasakan bertanya kepada teman, "Bagus tidak?", "Sukseskah saya?" Tapi baliklah dengan bertanya, "Apa kekurangan yang mesti saya perbaiki?", "Apa yang mesti saya sempurnakan?", "Kesalahan mana yang perlu dikoreksi?" Belajarlah bertanya kepada orang lain dan nikmati saran-saran yang mereka lontarkan. Milikilah teman yang mau dengan jujur mengoreksi. Tanya pula kepada istri, suami, anak-anak, dan teman karena hal itu semua sedikitpun tidak akan mengurangi kemuliaan.
3. Nikmati Kritik
Persiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa koreksi itu tidak selalu harus sesuai dengan keinginan kita. Adakalanya isinya benar, namun caranya salah. Kita pun harus bersyukur dan bersabar apabila isinya benar dan caranya pun benar. Dalam menyikapi kemungkinan itu, kita harus sangat bersyukur karena nikmat sekali menerima koreksian semacam ini. Kadang terjadi, isinya salah, caranya sudah benar. Untuk itu kita harus minta maaf dan berterima kasih. Dan tidak mustahil, isinya salah, caranya juga salah! Maka kita harus segera memaafkan dan menghadapinya dengan penuh kesabaran. Sebab tidak ada yang rugi dengan koreksi. Yang rugi adalah mereka yang salah dalam menyikapinya.
4. Syukuri
Jangan melempar komentar apapun kecuali lontaran ucapan terima kasih yang tulus kepada orang yang memberi kritik. Sertakan namanya dalam doa-doa kita terutama bila ingat dengan kebaikan-kebaikan yang telah ia berikan. Harapannya, semoga Allah SWT membalas kebaikannya yang telah sudi meluangkan waktu untuk membantu perbaikan diri kita. Kalaupun dia salah dalam menyampaikan kritik, doakan saja, semoga Allah Azza wa Jalla memaafkan kesalahannya itu.
5. Evaluasi Diri
Jujurlah kepada diri sendiri ketika menerima kritik dan koreksi yang datang. Jangan sibuk menyalahkan pengkritik, tapi camkan dalam hati, "Kritik ini merupakan pertolongan Allah. Ini adalah jawaban dari Allah atas doa-doa kita untuk ditunjuki jalan yang lurus." Maha Suci Allah yang telah mengabulkan doa kita.
6. Perbaiki Diri
Buatlah program perbaikan dengan sungguh-sungguh. Jadikanlah program perbaikan diri sebagai rasa syukur atas kritik yang datang. Minta tolonglah kepada Allah, karena perubahan hanya akan terjadi atas pertolongan Allah jua. Seburuk apapun masa lalu kita, maka Allah Maha Kuasa membentuknya menjadi baik. Sekelam apapun kesalahan-kesalahan kita, Allah takkan pernah putus memberi jalan bagi hamba-Nya yang memohon ampun. Begitu mudah bagi Allah memberi kita celah-celah yang akan mampu mendobrak keterpurukan menjadi batu loncatan menuju hidup yang lebih baik.

Hal mendasar yang sangat penting sebelum kita mengkritik adalah tekad : "kita menginginkan perubahan". Esensinya agar orang yang kita kritik berubah menjadi lebih baik. Maka yang patut diperhatikan sebaik-baiknya adalah :
1. Niat Harus Ikhlas
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya." Sungguh, wahai sahabat, niat yang salah akan mempengaruhi pertolongan Allah pada kita. Maka niatkan bahwa koreksi yang kita sampaikan disebabkan oleh keinginan yang tulus untuk membantu agar dia menjadi tahu kesalahannya. Jangan sekali-kali merasa lebih tinggi dan lebih hebat, karena kesombongan kita dapat mengakibatkan mutu kalimat dan kata-kata yang terucap oleh lidah menjadi rendah dan bernada menggurui atau merendahkan. Tentu saja hal ini tidak diharapkan oleh siapapun.
2. Perhatikan Situasi dan Kondisi
Orang yang sedang gembira dengan orang yang sedang berduka berbeda dalam kepekaan menerima kritik, tidak sama rasa tersinggungnya. Orang yang sehat dan yang sakit juga berbeda daya terimanya dalam menghadapi kritik. Maka sebaik-baiknya situasi adalah keadaan yang tenang, keadaan tubuh yang sehat wal'afiat, kondisi kedua pihak juga sedang lapang, dan dilakukan dengan situasi penuh keakraban dan persahabatan. Walhasil, dalam meluncurkan kritik akan lebih ringan dijalani dan lebih memungkinkan untuk direnungkan secara bijaksana oleh orang yang menerima kritik.
3. Perhatikan Cara Mengkritik
Yang pertama dalam mengkritik dan mengoreksi orang lain adalah jangan emosional. Jangan memperturutkan hawa nafsu dan kemarehan. Sebab dengan amarah akan tidak jelas apa yang disampaikan, dan sangat beresiko menimbulkan kesalahpahaman. Sepatutnya, ketika nafsu amarah kita sudah terkendali, jelaskanlah peta situasinya. Kesalahan apa dan pelanggarannya yang mana, sehingga orang akan paham betul letak kesalahannya di mana. Jelaskan pula apa kerugiannya bila ia tetap berperilaku seperti itu. Yang tak kalah penting ialah kita harus membantu orang tersebut menemukan solusi yang pas bagi dirinya serta jalan keluar yang paling tepat.
4. Pantangan Kritik
Pantangan dalam memberikan kritik atau koreksi adalah jangan sekali-kali mengkritik orang di hadapan banyak orang. Sebab hal itu tidak akan diartikan sebagai nasihat, melainkan dimaknai sebagai upaya mempermalukan dirinya. Sehingga selama mendengar kritik atau nasihat kita, yang bersangkutan lebih sibuk menahan rasa malu, repot menghadapi perasaan tertekan, lebih merasa sakit hati bahkan memendam dendam. Pujian proporsional boleh dilakukan di depan orang, tapi kritik atau koreksi akan lebih terjaga bila dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.
5. Siap untuk Ditolak
Kita harus siap bahwa orang yang kita koreksi belum tentu menerima koreksi tersebut. Bisa jadi ini karena cara kita yang kurang bagus. Atau mungkin ini karena dia memiliki persepsi yang berbeda terhadap apa yang kita anggap layak untuk dikoreksi. Kita juga harus siap dengan kenyataan bahwa dia membantah, menolak atau bahkan sebaliknya menyerang kita. Sepatutnya kita dapat benar-benar mengendalikan diri dan tetap dalam posisi sebagi pemberi informasi bukan sebagai hakim penghukum. InsyaAllah kalau ikhlas, walaupun dihadapan kita ia tampak menolak, siapa tahu dikala dia sedang sendirian di malam hari, misalnya, dia akan lebih lapang dalam merenungkan koreksian yang sudah kita sampaikan, dan sangat memungkinkan dia menerimanya serta berseda sepenuh hati menjalankan apa yang kita sarankan.
6. Jangan Merasa Berjasa
Ujian bagi kita adalah ketika orang yang kita koreksi ternyata mau mengubah dirinya sesuai yang kita anjurkan dan menjadi sukses! Andaikata kita merasa ujub, bahwa itu karena jasa kita, bahwa itu hasil kebaikan kita, maka ini menunjukkan yang sebenarnya layak untuk dikoreksi adalah : diri kita sendiri! Jadi, dalam hal ini, kendalikan hati. Jangan sampai kesuksesan merubah orang membuat kita lupa diri. Teguhkan keyakinan bahwa hanya Allah yang berkuasa mengubah seseorang sementara kita sendiri patut mensyukurinya. Sebab Allah SWT telah berkenan menjadikan diri kita sebagai jalan bagi datangnya pertolongan Allah kepadanya. Sebaliknya apabila tanda-tanda perubahan tak nampak, tetap jangan kita patah semangat. Jangan menyerah untuk sekedar memberikan input atau masukan terbaik dengan cara yang lebih inovatif lagi, dengan hati yang lebih bening. Setidaknya, taburan doa-doa kita mengiringi hari-harinya untuk melakukan perubahan. Ini merupakan tanda keikhlasan kita untuk memperbaiki orang tersebut.

Demikianlah, mudah-mudahan kita menjadi orang yang beruntung sebagaimana tersurat dalam Al-Qur'an surat Al-'Ashr:
"Demi masa. Sesungguhnya semua manusia itu dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman, lagi mengerjakan amal shalih, lalu ia saling nasihat menasihati dalam kebenaran juga dalam kesabaran."


(K.H. Abdullah Gymnastiar)

No comments: