Wednesday, November 28, 2012

Tentangnya



Kriiiiinnggg…

Kulirik jam dinding di ruang tamu, waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Kuangkat telepon, seketika terdengar salam di seberang sana.

„Assalaamu’alaykum… Teh, lagi sibuk gak?“
 
Ternyata Nining, yang sebelum terbang ke negeri Hitler ini adalah seorang Bankir, yang bisa dibilang cemerlang karirnya. Mempunyai penghasilan lebih dari cukup sehingga mampu membeli barang-barang bermerk kegemarannya, dan segudang kegiatannya di berbagai sosialita.
Setelah menikah Nining memutuskan untuk berhijab dan keluar dari pekerjaannya, untuk kemudian menyusul suaminya yang sedang menuntut ilmu di sini. Dia adalah seorang yang ceria, namun kali ini suaranya terdengar seperti sedang sedih.. atau tepatnya memendam sesuatu. Lalu tak lama kemudian meluncurlah keluh kesah dari bibirnya.

„Teh.. aku kok ngerasa seperti yang gitu2 aja yaa.. Kayak Oshin.. Setiap hari bangun, ngurus anak, ngurus suami, masak, nyuci, nyetrika.. kayaknya gak ada perkembangan berarti buat aku.. Beda seperti dulu, aku bisa bla.. bla.. bla…“

Aku masih mendengarkan keluh kesahnya.

„Sebelum si kecil lahir, aku masih bisa ikut les bahasa Jerman.. tapi sekarang kan susah, ntar siapa yang megang si kecil? Memang sih, aku bisa cari tempat kursus yang juga nyediain penitipan anak, tapi kan biayanya lebih mahal.. Mending uangnya buat yang laen deh…
Mau kerja juga gak mungkin.. Selain emang aku belum bisa berbahasa Jerman, aku kan pake kerudung.. Pasti susah banget nyari kerja di sini, meski bidang ilmu yang aku punya itu bisa dipake di mana-mana..“

Aku tiba-tiba teringat cerita salah seorang sahabat yang sudah menyelesaikan program S2-nya di salah satu universitas teknik di negeri ini namun sampai sekarang masih belum mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu kali dia dipanggil wawancara di sebuah perusahaan IT dan berakhir dengan sebuah tawaran, „Jika Anda memang tertarik untuk bekerja di perusahaan kami, mungkin Anda harus melepas kerudung Anda.“ Sebuah tawaran yang langsung ditolak mentah-mentah olehnya. Karena memang sebetulnya itu bukan sebuah pilihan, namun lebih merupakan penganiayaan hak asasi manusia, dimana hak untuk melaksanakan perintah agamanya yang disakiti.

„Ning.. kita belum tau apa sebenernya maksud Allah mengirim kita ke sini. Pasti ada sesuatu yang sebenernya bisa kita lakukan.. Gak mungkin kan, Allah semata-mata menggerakan hati kita untuk tinggal di sini tanpa ada sesuatu yang bisa kita ambil hikmahnya. Oke, mungkin kamu saat ini ngerasa belum bisa berbuat banyak.. entah itu untuk keluarga kecilmu, atau untuk lingkungan sekitar kamu.. Tapi apakah kamu ngerasa bahwa dengan kamu ada di sini, di negeri yang mayoritas non muslim ini, ghirah agama kamu lebih baik dibanding ketika kamu masih di Indo?”

Lanjutku, “…waktu kita lagi di Indo, suasanya bener-bener kondusif.. Kita ngerasa gak perlu secara khusus untuk berusaha lebih memperdalam ilmu agama kita. Karena semuanya bisa dengan mudah kita dapatkan.. Ceramah pekanan dari berbagai Ustadz bisa kita dengerin di mana aja, buku-buku maupun majalah Islami juga banyak. Ketika Ramadhan? Atmosfer ibadah begitu terasa.. Atau paling tidak waktu shalat gak banyak berubah kayak di sini.. Dimana kita mesti bener-bener memperhatikan perubahan waktu shalat dari hari ke hari.. Belum lagi masalah makanan, tontonan di televisi, iklan-iklan di jalan, dan lain-lain. Tapi itu semua bikin kita lebih waspada dan lebih berusaha untuk selalu mendekatkan diri padaNya kan? Untuk selalu meminta perlindunganNya dari berbagai macam gangguan yang relatif lebih sering menyerang dibanding ketika kita ada di Indo.. ”

„Iya sih, Teh…“, jawabnya. „..Aku juga ngerasa gitu.. Disini aku lebih memperhatikan kebutuhan ruhiyahku, abisnya kalo gak jadinya berasa kering gitu deh.. Makanya kadang kalo gak hadir sekaliiii aja di pengajian, rasanya rugi.. Ya gak bisa nge-charge batin, gak bisa ketemu temen-temen Indonesia lainnya, dan juga gak bisa makan makanan yang enak-enak.. heheheheh…“

Suaranya kembali ceria, entah karena teringat berbagai makanan Indonesia yang biasa disajikan ketika pengajian, entah karena ingat suasana hangat penuh kekeluargaan ketika bertemu dengan keluarga Indonesia lainnya, atau alasan lainnya yang tidak kuketahui.

“Sekarang kita kalo beli makanan pasti ngliat Zutaten-nya (bahan) dulu ya, Teh.. Kalo dulu di Indo, aku mah ambil-ambil aja kalo beli sesuatu, gak peduli ama isinya.. Soalnya kan dalam pikiran aku pasti halal lah, wong di Indo gitu loh… hihihihi.. Trus kalo jajan di pinggir jalan juga gak nanya halal ato gak, langsung maen pesen aja…“

„Eh, Teh… emmmhh, kan sekarang lagi cuti kuliah.. Gimana kalo ngajarin aku bahasa Jerman? Minimal seminggu sekali gitu, sebelum aku pulang habis.. Biar yaaaahh, paling gak ada sesuatu yang bisa aku bawa pulang setelah dari sini…“

Namun dengan terpaksa aku tolak permintaannya, karena dengan hadirnya si kecil di rahimku membuat mood jadi turun naik, akan sangat sulit bagiku mengajar bahasa yang buatku butuh kesabaran lebih ;)

***

Selesai pembicaraan dengan Nining di telepon seketika aku teringat hampir 6 tahun yang lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini, ada perasaan was-was yang menghinggapi diri. Apa yang bisa kulakukan di sini? Apa aku bisa beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru ini? Namun suamiku selalu meyakinkan aku, „Tenang aja.. pasti akan banyak yang bisa kamu lakukan disini ;)“

Dan memang betul apa yang dikatakan suamiku. Di bulan pertama semenjak kedatanganku, aku sudah disibukkan dengan les bahasa Jerman intensif. Selain itu aku juga berkiprah di sebuah LSM yang bergerak di bidang wanita dan pendidikan, belum lagi berbagai acara di akhir pekan. Baik itu pengajian ibu-ibu, pengajian student, pengajian umum kota, hingga acara pengajian yang diselenggarakan di luar kota. Namun semenjak aku tercatat sebagai mahasiswa, sepertinya aku tidak sanggup lagi mengatur waktu seperti sebelumnya. Dengan berat hati aku mengundurkan diri dari kepengurusan di LSM tersebut setelah 3 tahun menjabat sebagai bendahara. 

Sebetulnya jika kita melihat peluang di sekitar kita, akan banyak sekali yang bisa kita lakukan selain ‘hanya‘ menemani suami yang sedang menyelesaikan studi atau bekerja di luar negeri. Tentu saja hal ini tidak lepas dari dukungan sang suami itu sendiri. Karena tidak dipungkiri, masih banyak suami yang menempatkan posisi istri hanya pada urusan dapur, sumur, dan kasur. Suami kurang membantu atau dengan kata lain ikut turun tangan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sehingga istri tidak mempunyai waktu luang untuk mengembangkan potensinya di luar rumah. 

Ketika suami memberikan support pada istrinya, maka banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya seperti yang terjadi di salah satu keluarga, dimana sang istri mengembangkan bakat di bidang keterampilan tangan seperti membuat asesoris dari mutiara, merajut, dan lain sebagainya. Dimana hasil kerajinan tangannya tersebut kemudian bisa dijual di bazar-bazar yang biasa diadakan di dalam maupun di luar kota. 

Ada pula yang mengembangkan minatnya di bidang boga dengan menerima berbagai macam pesanan kue, mengingat kue-kue yang dijual di toko roti di sini tidak dijamin kehalalan dan kethayyibannya.

Atau ada yang membuka jasa penitipan anak bagi yang kedua orang tuanya sekolah, dengan mengutamakan program belajar mengenal huruf Hijaiyyah, bernyanyi, dan sebagainya. Anak-anak di rumah pun punya banyak teman untuk bermain bersama.

Masih banyak alternatif yang bisa dipilih oleh para istri untuk mengembangkan potensinya. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Aktivitas terisi, potensi tergali, Euro pun tercukupi.

So, wahai ummahat.. Jangan khawatir untuk berkreasi di belahan bumi Allah yang lain. Wo ein Wille ist, ist auch ein Weg.. dimana ada kemauan, disitu ada jalan :)

No comments: