Kriiiiinnggg…
Kulirik jam dinding di ruang tamu, waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi.
Kuangkat telepon, seketika terdengar salam di seberang sana.
„Assalaamu’alaykum… Teh, lagi sibuk
gak?“
Ternyata Nining, yang sebelum terbang ke negeri Hitler ini adalah seorang
Bankir, yang bisa dibilang cemerlang karirnya. Mempunyai penghasilan lebih dari
cukup sehingga mampu membeli barang-barang bermerk kegemarannya, dan segudang
kegiatannya di berbagai sosialita.
Setelah menikah Nining memutuskan untuk berhijab dan keluar dari
pekerjaannya, untuk kemudian menyusul suaminya yang sedang menuntut ilmu di
sini. Dia adalah seorang yang ceria, namun kali ini suaranya terdengar seperti
sedang sedih.. atau tepatnya memendam sesuatu. Lalu tak lama kemudian
meluncurlah keluh kesah dari bibirnya.
„Teh.. aku kok ngerasa seperti yang
gitu2 aja yaa.. Kayak Oshin.. Setiap hari bangun, ngurus anak, ngurus suami,
masak, nyuci, nyetrika.. kayaknya gak ada perkembangan berarti buat aku.. Beda
seperti dulu, aku bisa bla.. bla.. bla…“
Aku masih mendengarkan keluh kesahnya.
„Sebelum si kecil lahir, aku masih bisa ikut les bahasa Jerman.. tapi
sekarang kan susah, ntar siapa yang megang si kecil? Memang sih, aku bisa cari
tempat kursus yang juga nyediain penitipan anak, tapi kan biayanya lebih
mahal.. Mending uangnya buat yang laen deh…
Mau kerja juga gak mungkin.. Selain emang aku belum bisa berbahasa
Jerman, aku kan pake kerudung.. Pasti susah banget nyari kerja di sini, meski
bidang ilmu yang aku punya itu bisa dipake di mana-mana..“
Aku tiba-tiba teringat cerita
salah seorang sahabat yang sudah menyelesaikan program S2-nya di salah satu universitas
teknik di negeri ini namun sampai sekarang masih belum mendapatkan pekerjaan.
Pernah suatu kali dia dipanggil wawancara di sebuah perusahaan IT dan berakhir
dengan sebuah tawaran, „Jika Anda memang
tertarik untuk bekerja di perusahaan kami, mungkin Anda harus melepas
kerudung Anda.“ Sebuah tawaran yang langsung ditolak
mentah-mentah olehnya. Karena memang sebetulnya itu bukan sebuah pilihan, namun
lebih merupakan penganiayaan hak asasi manusia, dimana hak untuk melaksanakan
perintah agamanya yang disakiti.
„Ning.. kita belum tau apa sebenernya maksud Allah mengirim kita ke
sini. Pasti ada sesuatu yang sebenernya bisa kita lakukan.. Gak mungkin kan,
Allah semata-mata menggerakan hati kita untuk tinggal di sini tanpa ada sesuatu
yang bisa kita ambil hikmahnya. Oke, mungkin kamu saat ini ngerasa belum bisa
berbuat banyak.. entah itu untuk keluarga kecilmu, atau untuk lingkungan
sekitar kamu.. Tapi apakah kamu ngerasa bahwa dengan kamu ada di sini, di
negeri yang mayoritas non muslim ini, ghirah agama kamu lebih baik dibanding
ketika kamu masih di Indo?”
Lanjutku, “…waktu kita lagi di Indo, suasanya bener-bener kondusif.. Kita ngerasa
gak perlu secara khusus untuk berusaha lebih memperdalam ilmu agama kita.
Karena semuanya bisa dengan mudah kita dapatkan.. Ceramah pekanan dari berbagai
Ustadz bisa kita dengerin di mana aja, buku-buku maupun majalah Islami juga
banyak. Ketika Ramadhan? Atmosfer ibadah begitu terasa.. Atau paling tidak
waktu shalat gak banyak berubah kayak di sini.. Dimana kita mesti bener-bener
memperhatikan perubahan waktu shalat dari hari ke hari.. Belum lagi masalah
makanan, tontonan di televisi, iklan-iklan di jalan, dan lain-lain. Tapi itu
semua bikin kita lebih waspada dan lebih berusaha untuk selalu mendekatkan diri
padaNya kan? Untuk selalu meminta perlindunganNya dari berbagai macam gangguan
yang relatif lebih sering menyerang dibanding ketika kita ada di Indo.. ”
„Iya sih, Teh…“, jawabnya. „..Aku
juga ngerasa gitu.. Disini aku lebih memperhatikan kebutuhan ruhiyahku, abisnya
kalo gak jadinya berasa kering gitu deh.. Makanya kadang kalo gak hadir
sekaliiii aja di pengajian, rasanya rugi.. Ya gak bisa nge-charge batin, gak
bisa ketemu temen-temen Indonesia lainnya, dan juga gak bisa makan makanan yang
enak-enak.. heheheheh…“
Suaranya kembali ceria, entah
karena teringat berbagai makanan Indonesia yang biasa disajikan ketika
pengajian, entah karena ingat suasana hangat penuh kekeluargaan ketika bertemu
dengan keluarga Indonesia lainnya, atau alasan lainnya yang tidak kuketahui.
“Sekarang kita kalo beli makanan pasti ngliat Zutaten-nya (bahan)
dulu ya, Teh.. Kalo dulu di Indo, aku mah ambil-ambil aja kalo beli sesuatu,
gak peduli ama isinya.. Soalnya kan dalam pikiran aku pasti halal lah, wong di
Indo gitu loh… hihihihi.. Trus kalo jajan di pinggir jalan juga gak nanya halal
ato gak, langsung maen pesen aja…“
„Eh, Teh… emmmhh, kan sekarang lagi cuti kuliah.. Gimana kalo ngajarin
aku bahasa Jerman? Minimal seminggu sekali gitu, sebelum aku pulang habis..
Biar yaaaahh, paling gak ada sesuatu yang bisa aku bawa pulang setelah dari
sini…“
Namun dengan terpaksa aku tolak
permintaannya, karena dengan hadirnya si kecil di rahimku membuat mood jadi turun naik, akan sangat sulit
bagiku mengajar bahasa yang buatku butuh kesabaran lebih ;)
***
Selesai pembicaraan dengan Nining
di telepon seketika aku teringat hampir 6 tahun yang lalu ketika pertama kali menginjakkan
kaki di negeri ini, ada perasaan was-was yang menghinggapi diri. Apa yang bisa
kulakukan di sini? Apa aku bisa beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar
baru ini? Namun suamiku selalu meyakinkan aku, „Tenang aja.. pasti akan banyak yang bisa kamu lakukan disini ;)“
Dan memang betul apa yang dikatakan suamiku. Di bulan pertama semenjak
kedatanganku, aku sudah disibukkan dengan les bahasa Jerman intensif. Selain
itu aku juga berkiprah di sebuah LSM yang bergerak di bidang
wanita dan pendidikan, belum lagi berbagai acara di akhir pekan. Baik itu
pengajian ibu-ibu, pengajian student, pengajian umum kota, hingga acara
pengajian yang diselenggarakan di luar kota. Namun semenjak aku tercatat
sebagai mahasiswa, sepertinya aku tidak sanggup lagi mengatur waktu seperti
sebelumnya. Dengan berat hati aku mengundurkan diri dari kepengurusan di LSM tersebut setelah 3 tahun menjabat sebagai bendahara.
Sebetulnya jika kita melihat peluang di sekitar kita, akan banyak sekali
yang bisa kita lakukan selain ‘hanya‘ menemani suami yang sedang menyelesaikan
studi atau bekerja di luar negeri. Tentu saja hal ini tidak lepas dari dukungan
sang suami itu sendiri. Karena tidak dipungkiri, masih banyak suami yang
menempatkan posisi istri hanya pada urusan dapur, sumur, dan kasur. Suami
kurang membantu atau dengan kata lain ikut turun tangan dalam menyelesaikan
pekerjaan rumah tangga, sehingga istri tidak mempunyai waktu luang untuk
mengembangkan potensinya di luar rumah.
Ketika suami memberikan support pada istrinya, maka banyak hal yang bisa
dilakukan. Misalnya seperti yang terjadi di salah satu keluarga, dimana sang
istri mengembangkan bakat di bidang keterampilan tangan seperti membuat
asesoris dari mutiara, merajut, dan lain sebagainya. Dimana hasil kerajinan
tangannya tersebut kemudian bisa dijual di bazar-bazar yang biasa diadakan di
dalam maupun di luar kota.
Ada pula yang mengembangkan minatnya di bidang boga dengan menerima
berbagai macam pesanan kue, mengingat kue-kue yang dijual di toko roti di sini
tidak dijamin kehalalan dan kethayyibannya.
Atau ada yang membuka jasa penitipan anak bagi yang kedua orang tuanya
sekolah, dengan mengutamakan program belajar mengenal huruf Hijaiyyah,
bernyanyi, dan sebagainya. Anak-anak di rumah pun punya banyak teman untuk bermain
bersama.
Masih banyak alternatif yang bisa dipilih oleh para istri untuk
mengembangkan potensinya. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Aktivitas terisi, potensi tergali, Euro pun tercukupi.
So, wahai ummahat.. Jangan khawatir untuk berkreasi
di belahan bumi Allah yang lain. Wo
ein Wille ist, ist auch ein Weg.. dimana ada kemauan, disitu ada jalan :)
No comments:
Post a Comment